Selasa, 29 Oktober 2013

TUGAS 2


PSIKOLOGI MANAJEMEN
Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai ilustrasi, dulu dalam manajemen, orang berproduksi hanya mengandalkan sumber daya alam. Misalnya, orang berburu, memancing atau memetik hasil hutan saja untuk memenuhi keperluannya.
Kaitannya dengan psikologi: dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM (Sumber Daya Manusia) ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Pasalnya, ilmu psikologi yang memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM (Sumber Daya Manusia) yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. 
Manfaat Psikologi Manajemen
·         Untuk mendapatkan pemecahan bagi masalah-masalah yang penting berkenaan dengan penggunaan tenaga manusia di dalam proses manajemen.
·         Agar dunia manajemen mampu menggunakan prosedur-prosedur yang lebih relevan / tepat untuk memecahkan masalah-masalah human (kemanusiaan).
Teori psikologi manajemen
TEORI X & Y MENURUT MC GREGOR
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas dapat dibedakan atas manusia penganut teori X dan Y dimana teori X memandang manusia malas tidak suka bekerja menghindarkan tanggung jawab suku dibimbing diperintah dan diawasi serta mementingkan diri sendiri sehingga untuk memotivasi karyawan harus dilaukan dengan cara pengawasan ketat, dipaksa, dan diarahkan supaya mereka mau bekerja sungguh sungguh.
Sedangkan teori Y memandang bahwa manusia atau Karyawan itu Rajin, suka bekerja memikul tanggung jawab berprestasi, kreatif dan inovatif menurut teori Y ini untuk memotivasi karyawan hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan,kerja sama, dan keterikatan pada keputusan.
Referensi :

ORGANISASI
Pengertian Organisasi
Organisasi pada dasarnya merupakan tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terkendali, dengan memanfaatkan sumber daya (dana, material, lingkungan, metode, sarana, prasarana, data) dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan bersama.
Manfaat Organisasi
1.      Organisasi sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan adanya organisasi yang baik.
2.      Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Contoh dari manfaat ini ialah, jika organisasi bergerak di bidang kesehatan dapat membentuk masyarakat menjadi dan memiliki pola hidup sehat. Organisasi Kepramukaan, akan menciptakan generasi mudah yang tangguh dan ksatria.
3.      Organisasi menawarkan karier. Karier berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan. Jika kita menginginkan karier untuk kemajuan hidup, berorganisasi dapat menjadi solusi.
4.      Organisasi sebagai cagar ilmu pengetahuan. Organisasi selalu berkembang seiring dengn munculnya fenomena-fenomena organisasi tertentu. Peran penelitian dan pengembangan sangat dibutuhkan sebagai dokumentasi yang nanti akan mengukir sejarah ilmu pengetahuan.
Tujuan Organisasi
Setiap manusia yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama, menciptakan sebuah wadah atau badan dimana mereka saling berusaha untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dan hal ini lah yang menjadi sebab adanya tujuan dari sebuah organisasi. Tujuan dicerminkan oleh sasaran yang harus dilakukan baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang.
Tujuan dari sebuah organisasi sangat mempengaruhi kinerja dari organisasi itu sendiri maupun untuk mencari massa atau anggota baru dalam pengembangan sebuah organisasi dan untuk menjaga kaderisasi anggota. Kaderisasi bertujuan untuk menjaga sebuah organisasi tetap bisa bertahan dan eksis dalam jangka waktu yang panjang.
Referensi :

KOMUNIKASI
Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam situasi yang tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau tingkah laku seorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan (Effendy, 2000 : 13).
Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan, informasi dari seseorang ke orang lain (Handoko, 2002 : 30).
Tidak ada kelompok yang dapat eksis tanpa komunikasi : pentransferan makna di antara anggota-anggotanya. Hanya lewat pentransferan makna dari satu orang ke orang lain informasi dan gagasan dapat dihantarkan. Tetapi komunikasi itu lebih dari sekedar menanamkan makna tetapi harus juga dipahami (Robbins, 2002 : 310).
Fungsi Komunikasi
a. Kendali : komunikasi bertindak untuk mengendalikan prilaku anggota dalam beberapa cara, setiap organisasi mempunyai wewenang dan garis panduan formal yang harus dipatuhi oleh karyawan.
b. Motivasi : komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan menjelaskan kepada para karyawan apa yang harus dilakukan bagaimana mereka bekerja baik dan apa yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kinerja jika itu di bawah standar.
c. Pengungkapan emosional : bagi banyak karyawan kelompok kerja mereka merupakan sumber utama untuk interaksi sosial, komunikasi yang terjadi di dalam kelompok itu merupakan mekanisme fundamental dengan mana anggota-anggota menunjukkan kekecewaan dan rasa puas mereka oleh karena itu komunikasi menyiarkan ungkapan emosional dari perasaan dan pemenuhan kebutuhan sosial.
d. Informasi : komunikasi memberikan informasi yang diperlukan individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan meneruskan data guna mengenai dan menilai pilihan-pilihan alternatif (Robbins, 2002 : 310-311).
Bentuk-bentuk Komunikasi
Bentuk-bentuk komunikasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Komunikasi vertikal
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas atau komunikasi dari pimpinan ke bawahan dan dari bawahan ke pimpinan secara timbal balik.
b. Komunikasi horisontal
Komunikasi horisontal adalah komunikasi secara mendatar, misalnya komunikasi antara karyawan dengan karyawan dan komunikasi ini sering kali berlangsung tidak formal yang berlainan dengan komunikasi vertikal yang terjadi secara formal.
c. Komunikasi diagonal
Komunikasi diagonal yang sering juga dinamakan komunikasi silang yaitu seseorang dengan orang lain yang satu dengan yang lainnya berbeda dalam kedudukan dan bagian (Effendy, 2000 : 17).
Pendapat lainnya menyebutkan, komunikasi dapat mengalir secara vertikal atau lateral (menyisi).
Dimensi vertikal dapat dibagi menjadi ke bawah dan ke atas.
a. Ke bawah : Komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu kelompok atau organisasi ke suatu tingkat yang lebih bawah. Kegunaan dari pada komunikasi ini memberikan penetapan tujuan, memberikan instruksi pekerjaan, menginformasikan kebijakan dan prosedur pada bawahan, menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian dan mengemukakan umpan balik terhadap kinerja.
b. Ke atas : komunikasi yang mengalir ke suatu tingkat yang lebih tinggi dalam kelompok atau organisasi digunakan untuk memberikan umpan balik kepada atasan, menginformasikan mereka mengenai kemajuan ke arah tujuan dan meneruskan masalah-masalah yang ada.
Sedangkan dimensi lateral, komunikasi yang terjadi di antara kelompok kerja yang sama, diantara anggota kelompok-kelompok kerja pada tingkat yang sama, diantara manajer-manajer pada tingkat yang sama (Robbins, 2002 : 314-315).
Komponen Komunikasi
Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik.  Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:
•         Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
•    Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
•    Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
•    Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
•    Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
•    Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan ("Protokol")
Proses komunikasi
•    Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
•    Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
•    Media (channel) alat yang menjadi penyampai pesan dari komunikator ke komunikan.
•    Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.
•    Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.

Referensi :


Jumat, 11 Oktober 2013

BIOGRAFI

Nama saya Anggi Effry Liqwiyanti, saya biasa dipanggil Anggi atau Bote oleh teman-teman saya. Saya berjenis kelamin Perempuan dan lahir pada tanggal 19 Mei 1994. Saat ini saya berumur 19 tahun dan agama saya Islam. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Nur Kholiq dan Ibu Lenny Widiyanti. Kami tinggal di Jl. Madrasah Tanah Koja No. 30 Rt. 007/02 Duri Kosambi Cengkareng Jakarta Barat.

Saya pertama kali memasuki jenjang pendidikan sekitar tahun 1998 ketika usia saya 4 tahun, saya bersekolah TK (di salah satu TK di Bali) hanya sampai kelas 0 kecil karena teman-teman saya sudah masuk SD semua (yang notabene mereka memang lebih tua setahun diatas saya) akhirnya papa saya bertanya pada Guru TK saya apakah saya bisa langsung masuk SD tanpa harus 0 besar terlebih dahulu, Guru TK saya menyarankan agar saya mengikuti tes masuk SD dan akhirnya saya pun lolos tes dan menjadi siswi SD dengan ketika umur 5 tahun 5 bulan. Pada tahun 1999 saya melanjutkan pendidikan di SDN 03 Denpasar dan pada kelas 3 semester akhir saya pindah ke SDN 06 Pagi Duri Kosambi Jakarta, lulus SD saya melanjutkan jenjang pendidikan ke SMPN 176 Jakarta dan setelah lulus SMP saya melanjutkan ke SMAN 84 Jakarta. Setelah lulus masa 12 tahun pendidikan, saya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu jenjang perguruan tinggi di Universitas Gunadarma dan mengambil jurusan Psikologi.

Ketika saya berusia 4 tahun, adik perempuan pertama saya lahir. Kelahirannya membuat saya merasa kurang diperhatikan oleh orang tua saya bahkan saya pernah hampir mendorong kereta bayinya ke dekat selokan rumah kami. Ketika saya berusia 7 tahun saya berlibur seorang diri ke Jakarta (ke rumah nenek dan kakek saya) tapi ternyata kakek saya meninggal dan akhirnya membuat keluarga saya harus pindah ke Jakarta untuk menemani nenek saya yang seorang diri dan jauh dari anak-anaknya yang lain. Ketika saya berusia 9 tahun adik bungsu saya lahir, saat itu saya tidak ambil pusing ketika punya adik lagi karena sudah tidak sekaget ketika punya adik pertama kali.

Saya adalah anak yang paling dekat dengan papa saya dibanding adik-adik saya, mungkin karena papa saya lebih sering menerapkan aturan-aturan ketatnya kepada saya walaupun tidak sekeras orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter.

Saya pribadi yang cenderung tomboy untuk ukuran anak perempuan seusia saya, saya lebih suka menyaksikan pertandingan sepak bola dan terkadang ikut bermain untuk mengisi waktu senggang, saya cenderung nyaman bermain dan berbicara blak-blakan dengan teman pria, dan saya jarang sekali memperhatikan penampilan di saat teman sebaya saya sibuk berlama-lama di depan cermin. Hal-hal tersebut terjadi karena dari kecil teman-teman saya kebanyakaan berjenis kelamin laki-laki dan ketika saya lahir bertepatan dengan digelarnya pertandingan sepak bola antar negara yang diadakan 4 tahun sekali “World Cup” sehingga saya yang masih bayi dan suka terbangun malam hari diajak menyaksikan pertandingan-pertandingan tersebut sehingga terbawa sampai sekarang.

Dibalik penampilan saya yang ceria, blak-blakan dan supel diantara teman-teman saya, saya termasuk seseorang yang susah bersosialisasi dengan teman-teman baru. Saya cenderung menyendiri dan menjauh dari kerumunan ketika saya baru pertama kali berada dalam lingkungan tersebut, sebagian orang yang baru pertama kali melihat dan mengenal saya pasti mengatakan saya seorang pribadi yang galak, jutek, dan sombong. Mereka menarik kesimpulan seperti itu karena melihat dari garis muka saya yang menggambarkan saya seorang yang jutek dan angkuh padahal saya diam dan menyendiri karena saya masih belum bisa bersosialisasi dengan lingkungan baru. Saya juga tipe orang yang moodyan, apabila mood saya sudah berantakan saya akan diam dan memasang muka yang terlihat jelas kalau saya sedang emosi hal tersebut yang terkadang membuat teman saya merasa bahwa saya sedang marah pada mereka. Saya selalu menjadi tempat curhat teman-teman saya tapi anehnya saya tidak mudah untuk menceritakan kegundahan maupun kegembiraan saya kepada teman-teman saya, saya lebih senang menyimpannya sendiri.

Saya memiliki phobia terhadap binatang anjing dan kecoa yang diakibatkan oleh pengalaman tidak mengenakan ketika kanak-kanak. Phobia anjing saya bermula saat usia saya 6 tahun, saya sedang berkunjung ke rumah saudara saya dan saya digigit oleh anjing peliharaan sodara saya. Mulai saat itu, saya takut dan cemas ketika melihat anjing dan ketika mendengar gonggongannya. Sebenarnya phobia ini sempat sembuh tetapi kambuh kembali ketika saya berusia 14  tahun, berawal dari saya hendak mengantarkan tugas ke rumah guru saya yang memelihara anjing lebih dari 1 ekor dan ganas-ganas, ketika saya turun dari motor, saya digonggongin terus menerus dan mereka tidak luput melihat saya walau sedetikpun, dari kejadian tersebut saya phobia anjing kembali tetapi tidak separah ketika saya masih kecil karena jika sekarang hanya mendengar gonggongannya saja saya tidak merasa takut ataupun cemas kecuali melihat anjing secara langsung barulah saya cemas dan takut. Lain lagi dengan phobia saya yang satunya yaitu phobia kecoa, untuk sebagian orang kecoa hanyalah binatang kecil yang gampang dimusnahkan namun bagi saya kecoa adalah binatang paling menjijikan dan susah dimusnahkan. Saya akan histeris dan cemas ketika berada berdekatan dengan kecoa, bahkan saya bisa keluar ruangan yang ada kecoanya sampai kecoa tersebut dimusnahkan baru saya akan masuk kembali tapi selama kecoa tersebut tidak keluar dari ruangan tersebut maka saya juga tidak akan pernah masuk ke ruangan tersebut termasuk jika itu kamar saya. Phobia ini disebabkan ketika saya berumur 8 tahun, saya diminta membelikan sesuatu oleh ibu saya disebuah warung dan ketika saya sedang membelikan pesanan ibu saya tiba-tiba ada sesuatu yang berjalan di betis saya begitu saya lihat ternyata itu kecoa dan tiba-tiba sekeliling saya dipenuhi kecoa yang keluar dari selokan. Sejak itu saya geli setiap melihat kecoa, bahkan yang sudah mati sekalipun.

Saya suka bergabung dengan suatu organisasi karena disamping saya dapat menambah pengetahuan, saya juga mulai dapat mengurangi keterbatasan bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Saya banyak mendapat teman-teman baru dari seluruh pelosok negri karena berkenalan ketika ada event ataupun berkenalan melalui jejaring sosial. Terkadang saya lebih cepat akrab dengan seseorang melalui jejaring sosial karena lebih nyaman ketika untuk perkenalan pertama tanpa tatap muka namun ketika bertemu secara langsung dengan orangnya pasti saya tetap kikuk untuk beberapa saat tapi ketika perasaan nyaman sudah melingkupi saya maka saya akan bisa gila-gilaan bersama orang tersebut.






Nama : Anggi Effry Liqwiyanti
NPM : 10511885
Kelas : 3PA01

Senin, 01 Juli 2013

Rangkuman Tugas


KONSEP SEHAT         
 Kesehatan mental sering juga disebut mental health atau mental hygine. Ilmu kesehatan mental berkait erat dengan terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit kejiwaan. Awal kemunculaan penelitian ini adalah adanya keluhan dari individu maupun masyarakat sekitar. Pengertian klasik tentang kesehatan mental ini mengandung arti yang sangat sempit, karena kajian kesehatan mental hanya diperuntukan bagi orang yang mengalami gangguan dan penyakit jiwa saja.

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
            Secara umum, secara historis kajian kesehatan mental terbagi menjadi dalam dua periode yaitu periode pra-ilmiah dan periode ilmiah (Langgulung, 1986: 23).
  1. Periode Pra-Ilmiah
     Sejak zaman dulu sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animeisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan korban.
     Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobantan, yaitu dengan menggunakan pendekatan naturalisme, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atu fisik itu merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan, atau hantu. “Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, akan tetapi anda tidak akan melihat roh, dewa, atau hantu yang melukai badan anda”. Ide naturalistic ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam pembedahan hewan.
  1. Era Ilmiah (Modern)
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di AS, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Penisylvania. Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyakit kejiwaan. 

Pendekatan Kesehatan Mental

  • Orientasi Klasik:  Seseorang dianggap sehat bila ia tidak memiliki keluhan seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tidak berguna yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau rasa tidak sehat, serta menggangu efisiensi kegiatan sehari-hari.
  • Orientasi Penyesuaian Diri:  Seseorang dianggap sehat mental bila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain apabila ia bisa bersosialisasi dengan lingkungan maka ia dianggap memiliki mental yang sehat.
  •  Orientasi Pengembangan Potensi:  Seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain dan tentu dirinya sendiri. Mental seseorang dikatakan sehat apabila ia bisa menciptakan atau memikirkan berbagai hal baru yang nantinya dapat dikembangkan oleh dirinya sendiri maupun orang lain.
Teori Kepribadian Sehat
     Dalam kesehatan mental terdapat beberapa teori kepribadian sehat dari beberapa aliran seperti psikoanalisa, behavioristik, dan humanistik.
1. Psikoanalisa
·         Psikoanalisis pertama kali di rumuskan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, menurut Freud psikoanalisis merupakan studi fungsi dan perilaku psikologis manusia yang merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia.
2. Behavioristik
·         Teori  behavioristik adalah  teori yang dilahirkan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran behavioristik memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu dalam suatu sistem kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum.
3. Humanistik
·                 Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi.  Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behavioralisme. Ciri dari kepribadian sehat menurut aliran ini adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu.
Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan Personal
  1. Penyesuaian diri
          Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).
B.     Pertumbuhan
        Manusia individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian.
1. Teori Kepribadian Sehat
  • Allport 
Pandangan-pandangan pribadi dan profesional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran kodrat manusia yang diutarakan Allport adalah positif. Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar – kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi.
  • Carl R. Rogers
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang diajukan oleh aliran Freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya.
  • Maslow (Hirarki Kebutuhan)
Maslow membagi tingkat kebutuhan manusia menjadi sebagai berikut:
1. kebutuhan fisiologis : kebutuhan yang dasariah, misalnya rasa lapar, haus, tempat berteduh, seks, tidur, oksigen, dan kebutuhan jasmani lainnya. Kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan absolut (kelaparan dan kehausan) semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini.

2. Kebutuhan akan rasa aman : mencakup antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan fisiologis adalah pertahanan hidup jangka pendek, sedang keamanan adalah pertahanan hidup jangka panjang.

3. Kebutuhan kasih sayang : mencakup kebutuhan akan rasa memiliki dan dimiliki, kasih sayang, diterima-baik, dan persahabatan. Kebutuhan dimiliki ini terus penting sepanjang hidup.

4. Kebutuhan akan penghargaan : mencakup faktor penghormatan internal seperti harga diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian. Orang membutuhkan pengetahuan bahwa dirinya dikenal dengan baik dan dinilai dengan baik oleh orang lain.

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri : mencakup hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu.
  • Erich Fromm 
Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan. 
  1. Hubungan 
Manusia menyadari hilangnya ikatan utama dengan alam dan dengan satu sama lain. Kita mengetahui bahwa kita masing-masing terpisah, sendirian, dan tak berdaya. Sebagai akibatnya, kita harus mencari ikatan-ikatan baru dengan orang-orang lain, kita harus menemukan suatu perasaan hubungan dengan mereka untuk menggantikan ikatan-ikatan kita yang hilang dengan alam. Fromm percaya bahwa pemuasan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis. 
2. Transendensi
Orang membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat fasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, berubah dari makhluk ciptaan menjadi pencipta. Seperti menjadi keterhubungan, transendensi bisa positif (menciptakan sesuatu) atau negatif (menghancurkan sesuatu).
3.  Berakar 
Menurut Fromm, cara yang yang positif adalah dengan membangun perasaaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, yaitu dalam masyarakat.
4.  Perasaan Identitas
Dasar ideal krangka orientasi adalah pikiran, yaitu sarana yang digunakan seseorang untuk mengembangkan gambaran realistis dan objektif tentang dunia.
  • Pengertian Stress
Hans Seyle adalah orang yang dianggap memberikan sumbangan paling besar dalam bidang stress pada tahun 1936 dengan dikenalnya istilah General Adaption Syndrome (GAS). Menurutnya ketika organisme berhadapan dengan stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk melakukan tindakan. Usaha ini diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikkan aktivitas sistem syaraf simpatetik.
Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stress:
Faktor Internal:
1)    Keturunan (Hereditary)
2)    Kepribadian (Personality Trait)
3)    Sistem Kepercayaan (Belief System)
4)   Pengalaman Masa Lalu (Past Experience) 
Faktor Eksternal
1.      Faktor Lingkungan (Environmental Factor) 
2.      Faktor Sosial (Social Factor) 
3.      Faktor Lembaga (Institutional Factor) 
4.      Peristiwa Besar (Major Life Events)
  • Tipe-tipe Stress
1.      Tekanan (pressures)
Tekanan terjadi karena adanya suatu tuntutan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu maupun tuntutan tingkah laku tertentu.Secara umum tekanan mendorong individu untuk meningkatkan performa, mengintensifkan usaha atau mengubah sasaran tingkah laku.
2.      Frustasi
Frustasi dapat terjadi apabila usaha individu untuk mencapai sasaran tertentu mendapat hambatan atau hilangnya kesempatan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan.
3.      Konflik
Konflik terjadi ketika individu berada dalam tekanan dan merespon langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga munculnya dua kebutuhan maupun motif yang berbeda dalam waktu bersamaan.
  • Mekanisme Pertahanan Diri dan Strategi Coping
1.    Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah
2.    Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar
3.    Berpikir positif dan self-efficacy
  • Pengertian Coping
Coping berasal dari kata coping yang bermakna harfiah pengatasan/penanggulangan (to cope with = mengatasi, menanggulangi). Coping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang di lakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/luka/kehilangan/ ancaman. Jadi coping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. Coping adalah sebuah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima tubuh dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik yaitu stres. apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi  terhadap perubahan atau beban tersebut (Ahyar,2010).
  • Jenis-jenis Coping
1.    Emotional focus Coping
Digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan ini melalaui perilaku individu, seperti: penggunaan alcohol, bagaimana meniadakan fakta - fakta yang tidak menyenangkan, melalui strategi kognitif. Bila individu tidak mampu  mengubah kondisi yang ‘stresfull’ individu akan cenderung untuk  mengatur emosinya.
2.    Problem focus Coping
Digunakan untuk mengurangi stressor, individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru. Individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila yakin akan dapat menubah situasi. Coping dibagi dua bagian, yaitu memfokuskan pada pemecahan masalah dan memfokuskan pada emosi.
  • Jenis-Jenis Coping yang Konstruktif dan Positif
1. Coping yang konstruktif
  • Escape
  • Accepteance
  • Avoidance
  • Avoidant coping
2. Coping yang positif 
  • Active coping
  • Problem solving focused coping
  • Distancing
  • Planful problem solving
  • Positive reappraisal
  • Self control
  • Emotion focused coping
  • Seeking social support
  • Positive reinterpretation   
A.   Konsep penyesuaian diri
Konsep Penyesuaian Diri
Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang  proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia atau individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme atau individu berjalan normal.
B. Pertumbuhan personal 
1.      Penekanan pertumbuhan, penyesuain diri dan pertumbuhan
Pertumbuhan dapat  diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.
2.      Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, individu mendapat banyak rintangan yg datang dari dalam dirinya maupun dari luar.
3.      Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan struktur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh.
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar kebermaknaan dari komunikasi tersebut.
Model-model  Hubungan Interpersonal
Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai hubungan interpersonal, yaitu :
1. Model Pertukaran Sosial
Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
Model Peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat.
3. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.
 Tahap Hubungan Interpersonal
Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
1.            Pembentukan
2.            Peneguhan Hubungan
3.            Pemutusan Hubungan
intimasi dan hubungan pribadi
Menurut Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadimmasing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama. Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
Keintiman (intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasangan dalam hubungan yang dekat (intim). Keintiman  juga  memberikan sumbangan besar dalam memenuhi kebutuhan individu dan keintiman itu pun memberikan efek positif pada kebaikan pasangan dalam suatu hubungan pertemanan (Prager & Buhrmester).
cinta absurd adalah cinta yang bersandar pada Passion dan Commitment. seperti mempertahankan pernikahan atau berpacaran karena teman, orangtua, usia, dan motivasi dari luar lainnya.
D.   Intimasi dan pertumbuhan
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.

Referensi : 
http://jungkirbalikduniabote.blogspot.com/

Nama : Anggi Effry Liqwiyanti
NPM : 10511885
Kelas : 2PA01